Senin, 13 Juli 2009

Berita CI dan Kehati

Berita
Berita Terkini Agenda Siaran Pers

Menghapus Hutang untuk Pelestarian Alam Sumatera

Conservation International dan Yayasan KEHATI membantu pemerintah menghapuskan hutang AS dan mengalihkannya untuk pelestarian alam
Bumi sangat memerlukan tutupan hutan tropis Indonesia yang utuh untuk menjaga keseimbangan iklim. Tanggung jawab menyelamatkannya tak hanya ada di tangan Indonesia, namun juga negara maju sebagai penyumbang polusi terbesar. Salah satu bentuk tanggung jawab tersebut dapat diwujudkan melalui mekanisme penghapusan hutang untuk melestarikan alam Indonesia (DNS).

Untuk mewujudkan kepeduliannya, Pemerintah Amerika Serikat (AS) hari ini Selasa (30/6) sepakat untuk menghapus hutang luar negeri Indonesia, hutang yang dihapus tersebut apabila dikalkulasi, hampir sebesar hampir 30 juta dolar AS selama 8 tahun. Keunikan dari penghapusan utang ini adalah keterlibatan dari LSM, yaitu hutang sebesar 2 juta dollar AS “dibeli” oleh 2 LSM lokal dan internasional, Yayasan KEHATI dan Conservation International.
“Keikutsertaan KEHATI merupakan bukti kesungguhan kami dalam melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia,” ujar Damayanti Buchori, Ph.D, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Indonesia. “Kami sangat menghargai upaya semua pihak, sehingga dana yang seharusnya dibayarkan kepada Pemerintah Amerika untuk melunasi hutang luar negeri Indonesia dapat kembali ke negara ini, dan digunakan untuk melestarikan keanekaragaman hayati, khususnya Pulau Sumatera”.

Upaya memperjuangkan DNS di Indonesia, sudah dimulai sejak tahun 1990. DNS ini digunakan untuk memperoleh pelunasan hutang dengan mengalihkan pembayarannya pada kegiatan pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati Sejauh ini sudah ada beberapa DNS lain yang telah berjalan, yaitu DNS dengan negara Jerman yang menggunakan mekanisme pembayaran yang berbeda. DNS dengan pemerintah Amerika Serikat ini dimungkinkan karena adanya kebijakan Undang-undang Konservasi Hutan Tropis (Tropical Forest Conservation Act-TFCA) ,yang telah disetujui oleh kongres di tahun 1998 sebagai mekanisme untuk mengurangi hutang luar negeri bagi negara negara berkembang yang kaya sumberdaya alamnya. Peluang ini segera ditangkap oleh pemerintah Indonesia untuk melunasi hutang sekaligus melestarikan alam.

“Melalui program ini, CI melanjutkan program CEPF (Critical Ecosystem Partnership Fund) tahun lalu di lokasi yang sama yaitu Pulau Sumatera, mengingat kondisi hutan Sumatera yang saat ini sedang dalam keaadaan kritis”, tutur Jatna Supriatna Ph.D, Regional Vice President Conservation International Indonesia. Lanjut Jatna, “Kami sangat mengharapkan mekanisme ini dapat menjadi contoh bagi negara lain demi mewujudkan tanggung jawabnya melestarikan hutan tropis dunia”.

CI telah terlibat dengan DNS sejak tahun 1987 di negara Bolivia, sehingga pengalaman di negara lain tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam implementasi DNS di Indonesia. Program DNS kali ini disepakati untuk melestarikan tutupan hutan Sumatera yang menjadi habitat dari beberapa spesies kunci, yaitu Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Gajah Sumatera (Elephas maximus) dan Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae).

Program DNS merupakan sebuah penyelesaian yang baik bagi negara pengutang dan pemberi utang. Lebih dari 30 juta dollar atau setara dengan 300 milliar rupiah akan tetap dibelanjakan di Indonesia untuk keperluan konservasi, dan tidak mengalir ke negara maju.
DNS ini merupakan tantangan bagi pemerintah Indonesia untuk menunjukkan bahwa penghapusan hutang ini benar-benar dapat bermanfaat bagi penyelamatan hutan dan keanekaragaman hayati Indonesia. Program ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam membangun kepercayaan (trust building) negara-negara donor bahwa pemerintah Indonesia memiliki kemampuan dalam mengelola sumberdaya alamnya secara berkelanjutan sehingga dapat mengurangi kemiskinan dan membantu menjaga kestabilan iklim dunia. Yayasan KEHATI dipercaya untuk mengelola dana hasil penghapusan utang itu bersama dengan mitra-mitranya yang bergiat dalam penyelamatan hutan Sumatera.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar