Senin, 08 Juni 2009

Dayak Juga Manusia

Laporan dari Malinau.



Nah, setelah anda mendapat perhatian kami, topik hari ini dari KI, Orang Dayak tidak mau jadi barang antik.

Sobat, ini laporan harian dari kami yang lagi dilapangan di Malinau di Kaltim.

Saya memakai judul ini, untuk membuat konservasi Indonesia negeri yang kita cintai supaya bisa menjadi pembicaraan sehari-hari kita.

Kemarin, aku bicara dengan temanku di Kota Malinau di Kabupaten Konservasi. Temanku ini memilki campuran darah Dayak dan Jawa. Namun karena dia lahir dan besar di Kaltim, dia lebih merasa Dayak.

Waktu dia kuliah dia mempunyai seorang dosen yang berpendapat bahwa orang Dayak mesti di konservasi seperti aslinya. Wah wah jadi seperti dijadikan barang antik untuk dilestarikan dan di tonton saja.

Temanku ini sebut saja Susilo, dia selalu mendebat pendapat bapak dosen. Susilo berargumen bahwa orang Dayak bukan untuk dijadikan barang antik, tapi mereka juga ingin maju. Mereka tidak perlu dikasihani untuk di konservasi tapi perlu dibantu untuk kemajuan tanpa menghilangkan kearifan lokal mereka apalagi menghilangkan budaya mereka.

Susilo ini punya darah Dayak lun Dayeh, salah satu suku yang ada di Malinau dan Kalimantan atau bahasa asingnya Borneo.

Menurut satu penelitian CIFOR, ada delapan suku dayak dan sepuluh sub suku dayak yang hidup disekitar kota Malinau. Delapan suku tersebut adalah Punan, Merap, Kenyah, Tagel, Abai, Putuk, Tidung, Brusu.

Adapun sepuluh sub suku: Punan Tubu, Punan Malinau, Punan Brusu, Punan Mentarang, Kenyah Pua, Kenyah Lepo Ke, Paya Kenyah Lepo Kuda, Kenyah Lepo Ndang, Kenyah Uma Lasen dan Kenyah Uma Long.

Nah, apakah suku suku dayak tersebut menjadi “barang antik”, baca laporan berikutnya.



Salam


Konservasiindonesia.
Mohamad Rayan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar