Sabtu, 13 Juni 2009

Orangutan hitam, Pongo Pygmaeus Moro di Kaltim?

Berlindung dari Api dan Manusia di Sangkurilang

Sumber: Koran Tempo 04 Mei 2009

Erik dan Nardi sudah menegaskan bahwa jumlah orangutan bukanlah yang terpenting dari temuan Desember tahun lalu di Sangkurilang. Keduanya berpikir yang harus segera dilakukan adalah upaya penyelamatan habitat.

Untuk urusan ini, Edy Sudiono, juga dari TNC, mengungkapkan bahwa sudah ada komitmen dari pemerintah kabupaten setempat untuk memproteksi Sangkulirang. "Sudah ada drafnya," kata dia.

Edy menuturkan, penemuan habitat orangutan ini semestinya bisa menambah keyakinan pemerintah setempat setelah peneliti gabungan di antaranya dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Institut Teknologi Bandung pernah menemukan kekayaan gua-gua dengan sejarah peradaban di dalamnya, di antara bukit karst di Sangkulirang.

"Pemerintah harus membuat status baru selain taman nasional ataupun suaka margasatwa karena hutan Sangkulirang memiliki gua-gua bernilai sejarah tinggi di lantainya dan populasi orangutan di dahan pepohonannya," kata Edy memberi saran.

Kawasan hutan yang dikelilingi pegunungan kapur yang didatangi Nerdi dan timnya pada Desember adalah bagian dari daratan Semenanjung Sangkurilang. Secara administratif, kawasan ini terletak di antara Kabupaten Kutai Timur dan Berau, Kalimantan Timur.

Medannya yang terjal bukan cuma menghalangi manusia untuk menjamahnya, tapi juga api. Edy mengatakan, kawasan itu lolos dari dua kali kobaran api kebakaran, masing-masing pada 1992 dan 1997.

Di antara formasi batuan bekas karang berusia 20 juta tahun yang di beberapa tempat bisa menjulang 1450 meter--jauh melampaui kerimbunan tajuk hutan dataran rendah yang mendominasinya--itulah Nardi menduga orangutan membangun kamp. "Bisa jadi Sangkurilang adalah kantong populasi orangutan yang menghindari kebakaran hutan," katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar