Rabu, 10 Juni 2009

Pohon Terbesar di Borneo

Salam Konservasi.

Pagi di Malinau Kamis 11 Juni 2009.

Pohon terbesar ini (lihat photo) di Kalimantan dan Borneo ini di ukur oleh seorang dayak Kenyah. Pohon ini berdiameter 9.37 meter. Adapun tempatnya di hutan Malinau.

Ekpedisi mengukur pohon ini dilakukan oleh tim dari National Geographic Indonesia. Waktu itu kamipun ikut tapi hanya sampai di Tanah Olen di dekat desa setulang Malinau, Kalimantan Timur.

Tim ini berjalan seharian dan menginap di dekat pohon untuk mengambil photo dengan memanjat pohon yang sangat tinggi ini.

Pada hari ketiga merekapun tiba kembali di kamp Tanah Olen yang di bina BTRF, tempat dimana sekarang aku bekerja.

Waktu mengukurnya sobat dayak kita harus mencari rotan yang panjang untuk mengukur diameter pohon. Bagi orang dayak hutan adalah tempat bermainnya mereka sejak lahir sampai ke liang kubur.

Tim ekspedisidi temani tiga dayak. Jadi ada lima anggota tim yang menelusuri hutan perawan yang sangat menawan. Ketika kami menuju kamp Tanah Olen, aku merasa wah mungkin surga beginilah adanya. Kami mengalir di anak sungai menuju Tanah Olen dengan Ketingting.

Air menuju Tanah Olen ini sangat jernih,ikan-ikan kecilpun kelihatan. Oh, jangan sampai surga khatulistiwa ini hilang. Aku bermimpi mungkin satu saat aku bisa ajak anakku menikmati surga ini. Pohon-pohon tua dan segala macam flora-fauna kami lewati.

Akhirnya kami menginap dua malam di kamp Tanah Olen. Kami memakan masakan khas dayak Kenyah yaitu berupa ikan kecil yang dimasak dalam bambu dengan sedikit garam. Wo, nikmatnya makan nasi dengan ikan hutan Kalimantan.

Nah, mengenai ukuran pohon itu, Dr. Herwasono, si penulis Apo Kayan-Sebongkah Surga di Borneo, memberi pendapat dari data yang dia miliki maka pohon ini merupakan pohon nomor lima terbesar di dunia dan nomor satu di Borneo. Tidak percaya datanglah sendiri ke Setulang Malinau, ajak sobat dayaknya kesana. Kami siap memfasilitasi.

Anda mau melihat surga khatulistiwa, keindahan alam, mengerti hutan, kunjungilah sebongkah surga di Malinau yang kedepan bisa terancam juga oleh pembangunan.

Salam
konservasiindonesia
Mohamad Rayan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar