Senin, 22 Juni 2009

Pembantain Orangutan di Kalimantan

Pembatain Orangutan

Mohamad Rayan M.Ec

Pembantaian Orangutan menjadi berita besar di London, Inggris. Berita ini dimuat oleh Koran Inggris, Daily Exprees, UK pada tanggal 28 Mei 2009.

Dalam laporan itu diberitakan pembantain orangutan di Indonesia terutama di Kalimantan. Adapun aktor pembantaian adalah pembuka-pembuka lahan untuk perkebunan kelapa sawit yang berlebihan. Dengan proses yang tidak terkontrol ini dalam satu dekade kedepan orang-utan akan punah. Pembuka lahan membunuh orangutan karena dianggap sebagai hama penganggu.

Didalam berita itu juga digambarkan keserakaan pemangku kepentingan (stakeholder) dalam membuka lahan kelapa sawit. Adapun argumennya adalah sebenarnya kelapa sawit bisa ditanam dilahan yang sudah rusak atau bekas HPH, namun hampir semua izin pembukaan lahan kelapa sawit di berikan di daerah yang masih ada hutan alam.

Jelas keserakaan untuk mengambil keuntungan y ang berlebihan dalam proses pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit ini. Dengan membuka lahan dari hutan alam si pengusaha mendapatkan kayu yang hampir ratusan tahun umurnya dipotong dan dijual untuk produk kayu. Kiat lama yang dipakai baron kayu ketika pada zaman order baru. Rupanya kiat ini masih berlangsung. Pasti semua kebagian toh. Malah lebih serakah lagi, setelah diambil kayunya, perkebunan ditinggal. Inilah yang menyebabkan pembantaian orangutan yang tinggal dihutan alam dan hutan hujan tropis.

Hutan hujan tropis penting untuk menyealamatkan orang-utan terutama hutan tropis di Kalimantan dimana 90% orang-utan masih hidup. Selain intu hutan hujan tropis penting untuk menjaga kesehatan planet bumi. Hutan ini mecegah pemanasan bumi dengan mengabsorbsi karbondioksida, bagian penting dari siklus air dan pencegah kekeringan. Di hutan hujan tropis ada juga 420 spesies burung, 210 mamalia, 254 reptilia dan 368 jenis ikan airtawar.

Jumlah populasi orang-utan menurut data Direktorat Perlindungan Hutan dan konservasi Alam diperkirakan ada 61,234. Dari jumlah tersebut 54,567 hidup di Pulau Kalimantan dan 6,667 di pulau Sumatera. Lebih rinci lagi ada 4,825 orangutan di Kaltim, 31,300 di Kalteng, 7,425 di Kalbar, Serawak dan Sabah. Di Sumatera, orangutan ada 43 di Seulawah, 103 Aceh Barat, Aceh Timur (337), Leuser Barat (2,508), Sidiangkat (134), Leuser Timur(1,042), Tripa (280), Trumon-Singkil (1,500), Rawa Singkil Timur (160), Batang Toru Barat (400) dan Sarulla Timur(150).

Willie Smits, pendiri Borneo Orang-utan Survival foundation, telah menampung 1000 orangutan di pusat rehabilitasi orang-utan. Orangutan yang ditampung adalah korban dari pembukaan perkebunanan kelapa sawit di Kalimantan. Industri kelapa sawit dunia beromsetkan 14 miliar poundsterling.

Lone droscher-nielsen, salah satu pejuang orang-utan, mantan pramugari Swiss Airline SAS menjaga 600 orangutan di Nyaru meneteng Centre di Kalteng. Lone mengatakan akibat pembukaan lahan kelapa sawit, setiap 30 detik hutan hujan tropis dibabat sebesar satu lapangan bola. Seabad lalu ada 300,000 orang utan, dalam sepuluh tahun kedepan mereka akan punah.
Dalam memitigasi kemusnahan orang-utan, pemerintah telah merencanakan beberapa program.

Program-program tersebut adalah pendidikan konservasi, penelitian mengenai konservasi orangutan yang berkesinambungan, meningkatkan kerjasama dengan masyarakat lingkungan, membentuk forum untuk memonitor penegakan peraturan, pengaturan penebangan pada habitat orangutan, mengeluarkan undang-undang melarang pertambangan di kawasan habitat orangutan dan penegakan hukum dan patroli melawan penyeledup satwa seperi di laporkan di Koran The Jakarta Post tanggal 13 Juni 2008. Semuakan akan dicapai pada tahun 2017. Rencana memang bagus tapi kenyataanya kita tunggu.

Salam Konservasiindonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar